Senin, 21 Oktober 2019

MERAPAL GUNUNG NAGARA



Berbicara Garut, tak melulu soal dodol dan domba adu. Garut adalah Swiss van Java, daerah yang tak sekadar kaya dan indah, tapi eksotis. Wilayah dengan luas 3.065,19 km² itu secara geografis berbatasan langsung dengan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang di bagian utara, Kabupaten Tasikmayala di bagian timur, Samudera Indonesia di bagian selatan dan di bagian Barat berbatasan langsung dengan Kabupaten Bandung dan Cianjur. Yang menjadikannya istimewa dengan lengkapnya kekayaan alam, di semua elemen yang tersedia baik di darat, laut maupun udara. Tak hanya itu, Garut secara historis memiliki kekayaan yang tak kalah banyak. Di wilayah Selatan, contohnya. Di sana, ada Gunung Nagara. Sebuah situs bersejarah yang melegenda.

Gunung Nagara terbentang di antara dua kecamatan: Cisompet dan Pameungpeuk. Kalau dari Bandung, tak begitu sulit menemukan akses ke sana. Dengan menggunakan mobil Elf tujuan Pameungpeuk lalu turun di Kampung Pagelaran. Sekilas tampak tak ada jalan menuju Gunung Nagara meskipun gunung tersebut terlihat jelas dipandang mata. Akan tetapi, dari sana akan ada akses untuk berjalan kaki. Tak perlu khawatir, sebab dengan berjalan kaki sekilo meter, akan sampai di Desa Depok, gerbang menuju kawasan Gunung Nagara. Menurut hikayat verbal, Depok asal kata dari Padepokan, yang mengandung arti tempat peristirahatan para gegeden. Bahkan menurut salah satu sesepuh setempat, Ki Ecep, dahulu, di tahun ’60-an, Desa Depok masih memiliki tradisi yang serupa dengan Baduy di Banten dengan berjejer rumah-rumah adat yang secara serempak menghadap kiblat, hingga datang gerombolah DI/TII yang meluluhlantakkan desa tersebut. Jangan harap akan terlihat rumah-rumah adat lagi, apalagi kehidupan dengan budaya kabuyutan seperti di Baduy sekarang.

winabungsu.wordpress.com

Merujuk pada legenda dan cerita para leluhur, Gunung Nagara adalah tempat bersemedi, atau ritual peristirahatan terakhir para raja Sunda yang telah meletakkan tahtanya. Masyarakat Sunda kuno percaya bahwa tempat ini memiliki tempat kabuyutan—semacam tempat yang sakral dan sangat dihormati—yang diapit oleh sungai Cikaso di sebelah timur yang digunakan sebagai tempat peristirahatan (Ci artinya cahaya/sinar, Kaso artinya istirahat) dan sungai Cipalebuh  di sebelah barat sebagai peleburan diri/kontemplasi/perenungan (Ci artinya cahaya/sinar, Palebuh artinya peleburan). Uniknya, kedua sungai—yang terpisah—itu memiliki muara yang kemudian melebur menjadi satu aliran sungai, yang konon, apabila siapapun yang bermandi di sungai itu akan dibersihkan oleh Yang Mahakuasa baik lahir maupun batin.

Legenda Sangkuriang


supramistik.wordpress.com


Keunikan akan kembali tersaji ketika perjalanan sekitar setengah kilometer ke arah hulu. Di sana akan nampak fenomena geologis, yakni berupa batu pipih yang berjejer secara sinergis dan selaras serta berbaris seperti mengantre. Masyarakat menyebutnya “Batu Opak” karena bentuknya yang menyerupai opak, penganan khas Sunda semacam kerupuk. Masyarakat setempat juga meyakini bahwa fenomena geologis tersebut ada hubungan erat dengan legenda Sangkuriang ketika akan melamar Dayang Sumbi. Kala itu, penguasa Selatan, Mbah Rajadilewa ingin membantu membawakan hadiah, yang sayangnya, ketika hendak sampai, ayam jago kadung berkokok dan rombongan itu berubah menjadi batu. Barangkali pula jika dirunut lebih jauh, hubungan itu bakal sampai ke kawasan Karst Citatah yang memiliki kontur bebatuan berjajar dan pula diyakini sebagai rombongan seserahan Sangkuriang yang tampak di deretan tebing Karang Panganten.

Pusaran

sundalandgeografi.blogspot.com

Bila ragu berjalan sendiri, atau ingin mengetahui lebih banyak tentang sejarah Gunung Nagara, di Desa Depok bisa menemui Ki Anang, kuncen setempat untuk sampai ke lokasi. Dari Desa Depok perjalanan akan berlanjut menuju Cidadap dengan jarak tempuh sekitar setengah kilometer. Kita akan disajikan hamparan kecil pesawahan yang tak jauh darinya terdapat mata air yang menyegarkan sekaligus dikeramatkan. Airnya sangat menyegarkan, baik diminum atau dibasuhkan ke badan. Barulah, ketika mata air telah dilalui, adrenalin akan diuji karena kini perjalanan akan menemui tantangannya. Tak sedikit medan perjalanan yang memiliki kemiringan sampai 75 derajat dihadapi. Perjalanan seperti itu akan terus mengiringi sampai di puncak Gunung Nagara. Meskipun demikian, pepohonan besar dan rindang, dan mungkin jarang pula ditemui di tempat lain tersedia sebagai pelepas penat. Sebetulnya, bila tanpa istirahat, perjalanan untuk sampai di puncak hanya membutuhkan waktu setengah jam saja. Yakinlah, perjalanan seperti itu akan selalu menemui nikmatnya sendiri, sebab pemandangan pertama ketika sampai di puncak Gunung Nagara adalah komplek pemakaman yang legendaris dan penuh nilai historis, yang disebut “Pusaran Kahiji”.


sundalandgeografi.blogspot.com

Makam-makam di “Pusaran Kahiji” terlihat besar-besar dengan batu nisan yang dihiasi batu-batu kali di sekelilingnya yang berjumlah 26. Ki Anang menyebutnya batu “sakoja”. Yaitu batu yang dibawa dari sungai Cikaso dengan menggunakan koja, sejenis kantung yang terbuat dari bahan alam. Bila diperhatikan lebih teliti, komplek pemakaman itu nampak tersusun rapi membentuk struktur organigram, sehingga terkesan tidak sembarangan dalam membentuk dan menyusun siapa yang akan dimakamkan di mana.

sundalandgeografi.blogspot.com

sukmanegara.blogspot.com


Belasan meter ke arah utara, terdapat pula makam yang dikenal dengan “Pusaran Kadua”, hanya dua kuburan. Sedangkan “Pusaran Katilu” atau komplek pemakaman ketiga berjarak lebih jauh, yakni sekitar dua kilometer yang pula hanya terdiri dari dua kuburan. Konon, makam itu milik Mbah Ageung Nagara dengan patihnya.

Gunung Nagara dan Islam?

sundalandgeografi.blogspot.com

Berbeda dengan Tanah Jawa, di Tatar Sunda tak banyak dokumen tentang bagaimana kerajaan-kerajaan Sunda Nusantara dituliskan. Secara khusus, Kabupaten Garut, apalagi Garut Selatan, tidak pernah terceritakan kerajaan besar berdiri, sekalipun Galuh Pakuan, Sumedang Larang, Pajajaran atau Kasepuhan di Banten. Entah pengaruhnya yang tidak sampai atau memang Garut—kembali—hanya dijadikan tempat berkontemplasi para raja. Akan tetapi, tak menutup kemungkinan bila ternyata di wilayah Garut pernah berdiri kerajaan kecil yang dijadikan basis penyebaran Islam yang konon terjadi sekitar awal abad 13.

Legenda Kian Santang pun, menurut sebagian besar masyarakat Kampung Depok memiliki keterkaitan yang erat dengan Gunung Nagara. Kian Santang menyebarkan Islam di wilayah Garut Selatan bermula dari Gunung  Nagara. Dalam perjalanan dakwahnya, Kian Santang sangat menginginkan ayahnya, Prabu Siliwangi untuk pula memeluk Islam. Tapi karena tidak mau, sang raja kemudian berlari ke Leuweung Sancang yang kemudian menjadi peristirahatan terakhir baginya. Yang konon pula, diikuti para pengawalnya yang lalu berubah wujud menjadi harimau jadi-jadian. Selain itu pula, masyarakat Depok sangat meyakini, bahwa Kian Santang lebih memilik Gunung Nagara sebagai peristirahatan terakhirnya.

Menurut penuturan mantan Kepala Desa Depok, Abdul Rasyid, tiga “Pusaran” yang terdiri dari 30 makam tersebut melambangkan 30 juz dalam al-Quran. Lebih jauh beliau menjelaskan, “Pusaran Kahiji” yang terdiri dari 26 makam melambangkan surat-surat pendek (mufassal), sedangkan “Pusaran Kadua” memiliki arti surat Al-Mi’un dan “Pusaran Katilu” mengandung makna “Sab’ul Matsani”m, yang oleh karena itu tidak diperkenankan menambah makam.

Lebih rinci, Abdul Rasyid juga mengatakan bahwa “Pusaran Kahiji” itu terdiri dari para pengikut atau pengawal kerajaan yang salah satunya terdapat perempuan. “Pusaran Kadua” terdiri dari makam panglima kerajaan, sedangkan “Pusaran Katilu” merupakan makam raja dan patih. Akan tetapi, bila perjalanan dilanjutkan ke arah utara lebih jauh, akan ditemukan sebuah makam terpisah, yang konon merupakan makam seorang berbangsa Arab.

Masih menurut Abdul Rasyid, situs Gunung Nagara dahulu tak hanya memiliki peninggalan berupa patilasan dan makam, akan tetapi terdapat pula naskah-naskah berharga yang habis dibakar oleh gerombolan DI/TII ketika menyerang Desa Depok, meskipun beberapa naskah berhasil diselamatkan, wujudnya pun entah ke mana, berpencar di perseorangan yang hingga kini belum diketahui siapa dan di mana.

Walhal, Gunung Nagara bukan hanya cagar alam, yang apabila kita perhatikan secara seksama, banyak sekali kekayaan lain terdapat dan tersimpan di sana. Patut diduga, situs Gunung Nagara sejatinya adalah sebuah bangunan yang berbentuk waruga, yakni bangunan yang didesain khusus bagi para raja untuk mencapai Kahyangan. Hal tersebut bisa terlihat dari sisi-sisi tebing tiap Pusaran yang mirip bangunan ketimbang tebing landai. Barangkali, karena komplek pemakaman tersebut telah ada sejak ribuan tahun lalu dan tak terjamah manusia, akhirnya alam menjadikannya demikian. Selain itu, banyak orang juga yang meyakini bahwa di dalam perut Gunung Nagara tersimpan banyak harta karun. Hal ini dibuktikan oleh beberapa orang yang tak bertanggung jawab menggali tanah di beberapa lokasi di sekitar pemakaman.

kompasiana.com

Gunung Nagara juga patut dijadikan cagar alam, dimana di dalam sana masih banyak sekali terdapat flora langka yang masih tumbuh terjaga. Katakanlah, pohon burahol, menyan, kananga, bintanu, kigaru, binong serta mungkin tumbuhan lain yang belum dikenal secara ilmiah. Selain flora, berbagai macam fauna langka dan dilindungi masih kerap terlihat di sana. Seperti burung rangkong. Burung langka yang memiliki paruh besar dengan jambul indah yang apabila sayapnya mengepak akan tampak gagah dan perkasa. Juga berbagai jenis kera, seperti surili yang pada perhelatan PON di Jawa Barat dijadikan maskot. Pula kambing hutan, landak, kucing hutan (meong congkok), macan kumbang, walik dan banyak jenis serangga.

Akan sangat disayangkan apabila situs itu dibiarkan tanpa diberi perhatian. Betul, tangan manusia tak bisa dipercaya, tapi membiarkan peninggalan berharga dirampas orang tak bertanggung jawab adalah kekeliruan yang nyata. Maka sebaiknya pemerintah Kabupaten Garut segera mencurahkan perhatiannya dengan meminta saran dari para ahli supaya pengelolaan Gunung Nagara tepat kelola. Gelar Swiss van Java seyogyanya dipelihara dan betul-betul dijadikan pegangan dalam membangung Kabupaten Garut. Bukan tanpa alasan gelar itu disematkan, sebab memang orang asing melihat seperti itu apa adanya.

Bandung, 21 Oktober 2019

Haris Abdullah



Pranala luar: