Berbicara Garut, tak melulu soal dodol dan domba
adu. Garut adalah Swiss van Java, daerah yang tak sekadar kaya dan indah, tapi
eksotis. Wilayah dengan luas 3.065,19 km² itu secara geografis berbatasan
langsung dengan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang di bagian utara,
Kabupaten Tasikmayala di bagian timur, Samudera Indonesia di bagian selatan dan
di bagian Barat berbatasan langsung dengan Kabupaten Bandung dan Cianjur. Yang
menjadikannya istimewa dengan lengkapnya kekayaan alam, di semua elemen yang tersedia
baik di darat, laut maupun udara. Tak hanya itu, Garut secara historis memiliki
kekayaan yang tak kalah banyak. Di wilayah Selatan, contohnya. Di sana, ada
Gunung Nagara. Sebuah situs bersejarah yang melegenda.
Gunung Nagara terbentang di antara dua kecamatan: Cisompet
dan Pameungpeuk. Kalau dari Bandung, tak begitu sulit menemukan akses ke sana.
Dengan menggunakan mobil Elf tujuan Pameungpeuk lalu turun di Kampung Pagelaran.
Sekilas tampak tak ada jalan menuju Gunung Nagara meskipun gunung tersebut terlihat
jelas dipandang mata. Akan tetapi, dari sana akan ada akses untuk berjalan
kaki. Tak perlu khawatir, sebab dengan berjalan kaki sekilo meter, akan sampai
di Desa Depok, gerbang menuju kawasan Gunung Nagara. Menurut hikayat verbal,
Depok asal kata dari Padepokan, yang mengandung arti tempat peristirahatan para
gegeden. Bahkan menurut salah satu
sesepuh setempat, Ki Ecep, dahulu, di tahun ’60-an, Desa Depok masih memiliki
tradisi yang serupa dengan Baduy di Banten dengan berjejer rumah-rumah adat
yang secara serempak menghadap kiblat, hingga datang gerombolah DI/TII yang
meluluhlantakkan desa tersebut. Jangan harap akan terlihat rumah-rumah adat
lagi, apalagi kehidupan dengan budaya kabuyutan seperti di Baduy sekarang.
winabungsu.wordpress.com
Merujuk pada legenda dan cerita para leluhur, Gunung
Nagara adalah tempat bersemedi, atau ritual peristirahatan terakhir para raja
Sunda yang telah meletakkan tahtanya. Masyarakat Sunda kuno percaya bahwa
tempat ini memiliki tempat kabuyutan—semacam tempat yang sakral dan sangat
dihormati—yang diapit oleh sungai Cikaso di sebelah timur yang digunakan sebagai
tempat peristirahatan (Ci artinya cahaya/sinar, Kaso artinya istirahat) dan
sungai Cipalebuh di sebelah barat
sebagai peleburan diri/kontemplasi/perenungan (Ci artinya cahaya/sinar, Palebuh
artinya peleburan). Uniknya, kedua sungai—yang terpisah—itu memiliki muara yang
kemudian melebur menjadi satu aliran sungai, yang konon, apabila siapapun yang
bermandi di sungai itu akan dibersihkan oleh Yang Mahakuasa baik lahir maupun
batin.
Legenda
Sangkuriang
supramistik.wordpress.com
Keunikan akan kembali tersaji ketika perjalanan
sekitar setengah kilometer ke arah hulu. Di sana akan nampak fenomena geologis,
yakni berupa batu pipih yang berjejer secara sinergis dan selaras serta
berbaris seperti mengantre. Masyarakat menyebutnya “Batu Opak” karena bentuknya
yang menyerupai opak, penganan khas Sunda semacam kerupuk. Masyarakat setempat
juga meyakini bahwa fenomena geologis tersebut ada hubungan erat dengan legenda
Sangkuriang ketika akan melamar Dayang Sumbi. Kala itu, penguasa Selatan, Mbah
Rajadilewa ingin membantu membawakan hadiah, yang sayangnya, ketika hendak
sampai, ayam jago kadung berkokok dan rombongan itu berubah menjadi batu. Barangkali
pula jika dirunut lebih jauh, hubungan itu bakal sampai ke kawasan Karst
Citatah yang memiliki kontur bebatuan berjajar dan pula diyakini sebagai
rombongan seserahan Sangkuriang yang tampak di deretan tebing Karang Panganten.
Pusaran
sundalandgeografi.blogspot.com
Bila ragu berjalan sendiri, atau ingin mengetahui
lebih banyak tentang sejarah Gunung Nagara, di Desa Depok bisa menemui Ki
Anang, kuncen setempat untuk sampai ke lokasi. Dari Desa Depok perjalanan akan
berlanjut menuju Cidadap dengan jarak tempuh sekitar setengah kilometer. Kita akan
disajikan hamparan kecil pesawahan yang tak jauh darinya terdapat mata air yang
menyegarkan sekaligus dikeramatkan. Airnya sangat menyegarkan, baik diminum
atau dibasuhkan ke badan. Barulah, ketika mata air telah dilalui, adrenalin
akan diuji karena kini perjalanan akan menemui tantangannya. Tak sedikit medan
perjalanan yang memiliki kemiringan sampai 75 derajat dihadapi. Perjalanan seperti
itu akan terus mengiringi sampai di puncak Gunung Nagara. Meskipun demikian,
pepohonan besar dan rindang, dan mungkin jarang pula ditemui di tempat lain
tersedia sebagai pelepas penat. Sebetulnya, bila tanpa istirahat, perjalanan
untuk sampai di puncak hanya membutuhkan waktu setengah jam saja. Yakinlah,
perjalanan seperti itu akan selalu menemui nikmatnya sendiri, sebab pemandangan
pertama ketika sampai di puncak Gunung Nagara adalah komplek pemakaman yang
legendaris dan penuh nilai historis, yang disebut “Pusaran Kahiji”.
sundalandgeografi.blogspot.com
Makam-makam di “Pusaran Kahiji” terlihat besar-besar
dengan batu nisan yang dihiasi batu-batu kali di sekelilingnya yang berjumlah
26. Ki Anang menyebutnya batu “sakoja”. Yaitu batu yang dibawa dari sungai
Cikaso dengan menggunakan koja, sejenis kantung yang terbuat dari bahan alam. Bila
diperhatikan lebih teliti, komplek pemakaman itu nampak tersusun rapi membentuk
struktur organigram, sehingga terkesan tidak sembarangan dalam membentuk dan
menyusun siapa yang akan dimakamkan di mana.
sundalandgeografi.blogspot.com
sukmanegara.blogspot.com
Belasan meter ke arah utara, terdapat pula makam
yang dikenal dengan “Pusaran Kadua”, hanya dua kuburan. Sedangkan “Pusaran
Katilu” atau komplek pemakaman ketiga berjarak lebih jauh, yakni sekitar dua
kilometer yang pula hanya terdiri dari dua kuburan. Konon, makam itu milik Mbah
Ageung Nagara dengan patihnya.
Gunung Nagara
dan Islam?
sundalandgeografi.blogspot.com
Berbeda dengan Tanah Jawa, di Tatar Sunda tak banyak
dokumen tentang bagaimana kerajaan-kerajaan Sunda Nusantara dituliskan. Secara khusus,
Kabupaten Garut, apalagi Garut Selatan, tidak pernah terceritakan kerajaan
besar berdiri, sekalipun Galuh Pakuan, Sumedang Larang, Pajajaran atau
Kasepuhan di Banten. Entah pengaruhnya yang tidak sampai atau memang Garut—kembali—hanya
dijadikan tempat berkontemplasi para raja. Akan tetapi, tak menutup kemungkinan
bila ternyata di wilayah Garut pernah berdiri kerajaan kecil yang dijadikan
basis penyebaran Islam yang konon terjadi sekitar awal abad 13.
Legenda Kian Santang pun, menurut sebagian besar
masyarakat Kampung Depok memiliki keterkaitan yang erat dengan Gunung Nagara. Kian
Santang menyebarkan Islam di wilayah Garut Selatan bermula dari Gunung Nagara. Dalam perjalanan dakwahnya, Kian
Santang sangat menginginkan ayahnya, Prabu Siliwangi untuk pula memeluk Islam. Tapi
karena tidak mau, sang raja kemudian berlari ke Leuweung Sancang yang kemudian
menjadi peristirahatan terakhir baginya. Yang konon pula, diikuti para
pengawalnya yang lalu berubah wujud menjadi harimau jadi-jadian. Selain itu
pula, masyarakat Depok sangat meyakini, bahwa Kian Santang lebih memilik Gunung
Nagara sebagai peristirahatan terakhirnya.
Menurut penuturan mantan Kepala Desa Depok, Abdul
Rasyid, tiga “Pusaran” yang terdiri dari 30 makam tersebut melambangkan 30 juz
dalam al-Quran. Lebih jauh beliau menjelaskan, “Pusaran Kahiji” yang terdiri
dari 26 makam melambangkan surat-surat pendek (mufassal), sedangkan “Pusaran
Kadua” memiliki arti surat Al-Mi’un dan “Pusaran Katilu” mengandung makna “Sab’ul
Matsani”m, yang oleh karena itu tidak diperkenankan menambah makam.
Lebih rinci, Abdul Rasyid juga mengatakan bahwa “Pusaran
Kahiji” itu terdiri dari para pengikut atau pengawal kerajaan yang salah
satunya terdapat perempuan. “Pusaran Kadua” terdiri dari makam panglima
kerajaan, sedangkan “Pusaran Katilu” merupakan makam raja dan patih. Akan tetapi,
bila perjalanan dilanjutkan ke arah utara lebih jauh, akan ditemukan sebuah
makam terpisah, yang konon merupakan makam seorang berbangsa Arab.
Masih menurut Abdul Rasyid, situs Gunung Nagara
dahulu tak hanya memiliki peninggalan berupa patilasan dan makam, akan tetapi
terdapat pula naskah-naskah berharga yang habis dibakar oleh gerombolan DI/TII
ketika menyerang Desa Depok, meskipun beberapa naskah berhasil diselamatkan,
wujudnya pun entah ke mana, berpencar di perseorangan yang hingga kini belum
diketahui siapa dan di mana.
Walhal, Gunung Nagara bukan hanya cagar alam, yang
apabila kita perhatikan secara seksama, banyak sekali kekayaan lain terdapat
dan tersimpan di sana. Patut diduga, situs Gunung Nagara sejatinya adalah
sebuah bangunan yang berbentuk waruga, yakni bangunan yang didesain khusus bagi
para raja untuk mencapai Kahyangan. Hal
tersebut bisa terlihat dari sisi-sisi tebing tiap Pusaran yang mirip bangunan
ketimbang tebing landai. Barangkali, karena komplek pemakaman tersebut telah
ada sejak ribuan tahun lalu dan tak terjamah manusia, akhirnya alam
menjadikannya demikian. Selain itu, banyak orang juga yang meyakini bahwa di
dalam perut Gunung Nagara tersimpan banyak harta karun. Hal ini dibuktikan oleh
beberapa orang yang tak bertanggung jawab menggali tanah di beberapa lokasi di
sekitar pemakaman.
kompasiana.com
Gunung Nagara juga patut dijadikan cagar alam,
dimana di dalam sana masih banyak sekali terdapat flora langka yang masih
tumbuh terjaga. Katakanlah, pohon burahol, menyan, kananga, bintanu, kigaru,
binong serta mungkin tumbuhan lain yang belum dikenal secara ilmiah. Selain flora,
berbagai macam fauna langka dan dilindungi masih kerap terlihat di sana. Seperti
burung rangkong. Burung langka yang memiliki paruh besar dengan jambul indah
yang apabila sayapnya mengepak akan tampak gagah dan perkasa. Juga berbagai
jenis kera, seperti surili yang pada perhelatan PON di Jawa Barat dijadikan
maskot. Pula kambing hutan, landak, kucing hutan (meong congkok), macan
kumbang, walik dan banyak jenis serangga.
Akan sangat disayangkan apabila situs itu dibiarkan
tanpa diberi perhatian. Betul, tangan manusia tak bisa dipercaya, tapi
membiarkan peninggalan berharga dirampas orang tak bertanggung jawab adalah
kekeliruan yang nyata. Maka sebaiknya pemerintah Kabupaten Garut segera
mencurahkan perhatiannya dengan meminta saran dari para ahli supaya pengelolaan
Gunung Nagara tepat kelola. Gelar Swiss van Java seyogyanya dipelihara dan
betul-betul dijadikan pegangan dalam membangung Kabupaten Garut. Bukan tanpa
alasan gelar itu disematkan, sebab memang orang asing melihat seperti itu apa
adanya.
Bandung, 21 Oktober 2019
Haris Abdullah
Pranala luar:








